Kamis, September 26, 2013

Allah Sayang Padamu Kak - Eramuslim

Terkadang kenangan ini muncul tiba-tiba...
Aku rindu padamu Kak Dian..


Allah Sayang Padamu Kak

Sriwindhari – Selasa, 16 Muharram 1430 H / 13 Januari 2009 08:18 WIB

Amin.. InsyaAllah kak.. “, ucapku menutup pembicaraan.
Kak Dian, begitu aku memanggilnya. Sebuah pertemuan singkat, namun terasa hangat dan begitu bermakna. Beliau kakak letingku saat aku masih di bangku kuliah. Kami mulai berteman akrab sejak kami melaksanakan praktek lapangan di sebuah pulau ternama di Aceh, Pulau Sabang. Hanya tiga hari kami berada disana, kamis pagi berangkat dan minggu pagi kembali ke Banda Aceh.
Namun, siapa sangka pada saat hari kepulangan kami terjadi gempa bumi dan Tsunami. Oleh karenanya kami pun terpaksa kembali lagi ke Sabang karena kapal tak bisa merapat di Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya pada hari itu. Alhamdulillah ada sebuah desa yang besedia menampung kami para mahasiswa selama berada di Sabang. Banyak sekali bantuan yang warga berikan kepada kami selama sekitar seminggu keberadaan kami di sana. Rasanya tak sanggup membalas segala jasa baik mereka, hanya Allah jua yang dapat membalasnya.
Banyak diantara teman-teman yang mendapat kabar duka dari keluarganya yang berada di Banda Aceh. Tapi, kami semua saling menguatkan, semua yang terjadi sudah menjadi ketetapan Allah, Allah Maha Tahu mana yang terbaik buat hambaNya. Hanya do’a yang bisa kami panjatkan semoga Allah memberi kekuatan dan kesabaran kepada teman-teman yang kehilangan keluarganya dan melindungi keluarga mereka yang selamat dari gempa bumi dan tsunami.
Kak Dian adalah salah satu sosok yang sangat berkesan dalam hidupku. Aku melihatnya sebagai sosok gadis yang tegar, kuat dan tak patah semangat. Walaupun tempat tinggalnya di Banda Aceh termasuk di daerah yang rawan Tsunami, namun ia tetap menghibur dan meyakinkan diri bahwa keadaan keluarganya akan baik-baik saja. Walaupun ia sedih, tapi ia berusaha untuk menutupi kesedihannya. Memang tak semua mendapat kabar tentang kondisi keluarga masing-masing pada saat itu, karena terhambatnya jaringan komunikasi.
Hingga pada pagi itu, seorang bapak (saudaranya Kak Dian yang tinggal di Sabang) mendatangi tempat pengungsian kami. Beliau menjemput Kak Dian untuk membawanya ke rumah beliau. Aku dan seorang temanku pun di ajak ikut. Istri beliau menyiapkan makan siang untuk kami. Namun, sebelum makan, tuan rumah mempersilahkan kami untuk mandi dan bersih-bersih, karena mereka tau sangat susah untuk mendapatkan air di tempat kami mengungsi (disebabkan jumlah kami yang ramai dan ketersediaan air yang sangat terbatas).
Kabar duka itu kami terima saat aku dan seorang temanku bercerita-cerita dengan tuan rumah. Ternyata semua keluarga Kak Dian telah meninggal dunia. Mereka tak sanggup untuk menyampaikan kabar tersebut kepada Kak Dian, dan bahkan mereka bilang jangan memberi tahu kabar ini pada Kak Dian.Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun..
Menjelang sore, kamipun diantar kembali ke tempat kami mengungsi. Mulai saat itu perasaanku tak karuan. Aku membayangkan bagaimana seandainya Kak Dian menerima kabar itu, apakah tak lebih sedih dan sakit hatinya karena saudaranya tidak memberi tau kabar itu padanya? Ya Allah.. kuatkan Kak Dian.. beri ia kesabaran saat mendengar kabar ini kelak. Amin. Air mataku kembali menetes saat menatap wajah lelapnya yang tidur di sampingku malam itu.
Seminggu kemudian kami kembali ke Banda Aceh. Menjelang siang kami telah sampai di pelabuhan Malahayati. Tampak bapak dekan dan beberapa orang dosen datang menjemput kami, juga beberapa orang tua, termasuk ayahku. Alhamdulillah. Dari pelabuhan kami berangkat menuju kampus. Aku tak akan bisa melupakan bagaimana kondisi saat kami dalam perjalanan pulang. Sangat menyedihkan Rabbi.. semuanya telah hancur. Hanya dalam hitungan menit semuanya telah hilang. Banyak mayat yang masih berserakan di tepi-tepi jalan. Astaghfirullahal’adzim… kuatkan kami Rabbi.
Sesampai di kampus, masing-masing mahasiswa pulang bersama keluarganya, baik itu orangtuanya, bunda, paman atau saudaranya. Tak terkecuali Kak Dian. Aku berpelukan dengannya sebelum Kak Dian berangkat. Hangat sekali pelukan itu, dan aku berpesan padanya agar selalu memberi kabar padaku, karena ia akan langsung berangkat ke Jakarta bersama saudaranya. Kemudian, akupun pulang ke rumah bersama ayah dan paman. Alhamdulillah.. syukur aku panjatkan padaMu Allah karena aku masih bisa berkumpul kembali dengan keluargaku.
Sekitar seminggu kemudian, aku mendapat kabar bahwa Kak Dian sakit. Bahkan sempat dirawat di rumah sakit Jakarta. Akupun berusaha untuk menelponnya. Alhamdulillah kami dapat melepas rindu sejenak walaupun hanya lewat udara. Terakhir aku berkata padanya, ”Cepat sembuh ya Kak..”
Beberapa hari setelah aku menghubunginya, aku mendapat kabar Allah telah memanggil Kak Dian untuk selamanya. Hatiku hancur, seakan tak percaya. Innalillahi wa inna ilaihi raajiun.. Ya Allah rasanya baru beberapa hari yang lalu aku mendengar suaranya juga tawanya. Aku masih teringat saat-saat yang kami lalui bersama dipengungsian dan aku juga masih terbayang bagaimana wajah tegarnya. Ya Allah.. engkau sayang padanya. Berikanlah tempat yang terbaik baginya Rabb.. Amin.

Kak Dian di kuburkan di kuburan keluarga di Banda Aceh. Alhamdulillah aku dan beberapa teman dapat hadir ikut menyalatkan dan mengantarkan Kak Dian ke tempat persinggahannya yang terakhir. Tak kuasa aku manahan tangis saat melihat wajah manisnya terbalut kain kafan putih. Selamat jalan kakakku sayang.. Usai sudah tugasmu di dunia, semoga Allah selalu menyayangimu..
Beberapa hari setelah hari pemakaman aku mendatangi rumah saudara Kak Dian. Ada sedikit keperluan dan sekalian silaturrahim. Ya Allah, kepada kami diperlihatkan video saat Kak Dian koma di rumah sakit. Wajahnya pucat, kurus dan tampak sangat berbeda saat kami berpisah terakhir sekali di kampus. Aku kembali terbayang akan kenangan indah bersamanya. Walau hanya dalam hitungan hari, namun sangat indah sekali.
Allah sayang padamu Kak.. Ia ingin engkau kembali berkumpul dengan keluargamu.. Ia Maha Tahu bahwa ini semua yang terbaik bagimu.. Amin..
”Kullu nafsin dzaa ikatul mauut.. ”, Sesungguhnya setiap yang bernyawa akan merasakan mati… (QS.Ali Imran :185).

Teriring do’a buat kakakku sayang.. semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahanmu dan menerima semua amal ibadah yang engkau lakukan.. Amin…
(mengenang 4 tahun gempa bumi dan Tsunami)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar