![]() |
| chicken n tuna pizza |
Kamis, Maret 14, 2013
Jumat, Maret 08, 2013
Asam Sunti = Barang Berharga ^^
Coklat
kehitam-hitaman dan sedikit kering adalah penampakannya. Asam dan asin adalah
rasanya. Apakah itu? Ya, Asam sunti adalah jawabannya. Bagi orang Aceh, siapa
yang tak tahu dengan bahan masakan yang satu ini. Hampir semua masakan jadi mangat (enak) bila sudah di campur
dengan si asam sunti (tentunya masakan yang memakai asam sunti). Ia adalah
belimbing wuluh atau belimbing sayur yang dijemur kering setelah di rendam
dengan air garam selama sehari semalam. Kelihatannya sepele, tapi harga
perkilonya lumayan mahal J. So, lebih ekonomis
kalau kita menanam batang belimbing di rumah dan membuat asam sunti sendiri
bila sudah berbuah nanti.
Sebelum
berangkat ke Oz beberapa bulan yang lalu, asam sunti adalah termasuk dalam list
utama barang yang mau kami bawa. Namun sempat berkecil hati dan harap-harap
cemas apakah barang berharga ini lewat pemeriksaan atau tidak saat tiba di Bandara
Gold Coast, Brisbane, Australia. Soalnya jarang sekali asam sunti lewat
pemeriksaan di bandara ini (menurut pengalaman suamiku dan orang-orang aceh
yang berangkat ke Brisbane). Entah apa alasan jelasnya, padahal kita sudah
lapor bahwa barang-barang yang kita bawa ada termasuk asam sunti dan kita
menulisnya dengan star fruit atau Balimbing sp. Namun tetap aja jarang
yang lewat dari pemeriksaan petugas.
Tapi kali ini
ada ide cemerlang dari suamiku. Kami membuat nama dan ingredient dari asam
sunti. Asam sunti kami masukkan ke dalam plastic ukuran seperempat. Dibungkus
rapi dan di masukkan label nama asam sunti yang sudah diprint dan di gunting
kecil sesuai ukuran plastiknya. Tak lupa seraya mengucapkan Bismillah semoga
cara ini berhasil dan asam sunti terselamatkan dari pemeriksaan petugas
bandara. J
Asam sunti telah
siap di packing, semuanya ada sekitar 5 bungkus. Masing-masing kami bungkus
kembali dengan karton atau kardus kecil agar tidak hancur ketika terhimpit
barang-barang lain di dalam kopor. Semua telah beres dan siap untuk berangkat. J
Alhamdulillah
pesawat mendarat sekitar pukul 7 pagi waktu setempat. Udara pagi Gold Coast,
Brisbane membuat badan segar setelah sekitar delapan jam berada di dalam
pesawat dari Kuala Lumpur. Namun, jantung kok mulai berdebar-debar dan terus
berdoa semoga asam sunti tidak di amankan petugas. Koridor pemeriksaan satu persatu
kami lewati. Pemeriksaan passport dan visa, pengambilan barang dan pemeriksaan
barang terakhir sebelum keluar dari bandara. Seekor anjing pelacak sudah mulai
tampak. Duh, kok tambah deg-degan ya.. salah satu petugas yang membawa anjing
mulai mendekati kami. Si doggy mulai mendengus-dengus di sekitar kopor, dalam
hati berharap jangan sampai ia menjilat kopor-kopor kami. Alhamdulillah hanya
sebentar ia mengelilingi barang-barang kami dan sang petugas langsung
mempersilahkan kami lewat tanpa ada pemeriksaan lagi di meja pemeriksaan
barang. Alhamdulillahirabbil’alamiin.. semua berjalan lancar dan Allah
mendengar pinta kami agar asam sunti tercinta ikut pulang bersama kami. Kami
pun berbaik sangka mungkin inipun karena kedatangan kami bersama anak-anak. Biasanya
pendatang yang membawa anak-anak lebih mudah pemeriksaannya. J
Dan sekarang,
asam sunti telah masuk dalam rak bahan-bahan masakanku. Semoga cukup persediaan
selama kami di sini. Terima kasih asam sunti, engkau telah berperan dalam
masakanku sehari-hari, seperti Ayam masak Aceh dan Tumis cumi. Alhamdulillah.. J
Kamis, Maret 07, 2013
Kamis, Februari 21, 2013
Listrik Padam, serasa seperti di Aceh..
Sejak seminggu
yang lalu hujan dan angin kencang melanda kota Brisbane, Australia. Sudah
sebulan lebih kami disini, ini adalah hujan yang paling lebat yang kami
rasakan. Keberadaan saya di kota ini adalah dalam rangka menemani
suami yang sedang belajar meraih gelar Ph.d. Sejak hujan mulai turun ratusan
rumah warga di daerah selatan Brisbane telah tenggelam oleh air. Banyak warga
yang pergi untuk menyelamatkan diri dan keluarganya. Alhamdulillah daerah
tempat kami tinggal termasuk dataran tinggi dan insyaallah tidak termasuk dalam
map yang diprediksikan terkena banjir atau tergenang air.
Kejadian dua
tahun yang lalu kembali terjadi saat musim hujan tiba di saat summer. Mungkin
aneh kedengarannya, di saat musim panas yang suhunya sangat ekstrim, kebakaran
hutan terjadi di beberapa tempat, namun esoknya ketika hujan turun tiada henti
maka kejadian berbalik seratus derajat. Cuaca yang panas menjadi dingin dan
keadaan yang kering menjadi banjir oleh banyaknya air hujan yang turun dan
bendungan yang tidak mampu menampung air.
Angin kencang
yang menyertai hujan ikut membuat jantung ini berdebar. Pepohonan tinggi dan
besar yang tumbuh disepanjang jalan ikut berayun akibat kencangnya tiupan
angin. Akibatnya listrikpun padam. “Innalillahi..” spontan kalimah ini aku ucapkan. Suasana
menjadi lebih sangat mengerikan. Angin kencang, hujan lebat dan gelap gulita
diluar sana. Tidak ada persiapan apa-apa menghadapi padamnya listrik.
Alhamdulillah ada sebuah lilin dilemari rumah peninggalan teman yang menempati
rumah kami sebelum kami tinggal. Hanya sebuah lilin ini yang menjadi penerang
sepanjang malam. Berharap listrik akan menyala beberapa saat kemudian. Namun,
harapan tinggal harapan. Sampai esok pagi listrik tak kunjung hidup. Alhasil
memasakpun tak bisa karena kompor untuk memasak juga menggunakan listrik.
Syukur Alhamdulillah pagi itu kami mendapat lauk dari tetangga yang juga
student, mereka bisa memasak karena kompor yang mereka gunakan menggunakan gas.
Terbersit dalam hati, kalau andaikan di Aceh pasti tidak masalah dengan makanan
jika tiada listrik. Masak nasi masih bisa dikompor dan menggiling bumbu masak
masih bisa menggunakan batu giling atau cobek. Namun, suasana malam yang hanya
diterangi cahaya lilin seperti ini betul-betul mengingatkan saya pada kampung
halaman.
Ternyata harapan
masih belum terpenuhi. Listrik masih padam hingga dua hari. Terpaksa menumpang masak
nasi dan lauk dirumah teman yang juga student Indonesia tadi. Alhamdulillah,
meskipun jauh dari keluarga, teman pun sudah seperti saudara sendiri. Ketergantungan
pada listrik sangat besar disaat seperti ini. Memasak, penerangan, alat-alat
elektronik dan kebutuhan air panas tidak ada karena semuanya menggunakan listrik.
Hp dan laptop low batt, bahkan mati karena habis batrey. Bersyukur dalam hati
karena sebenarnya warga yang terkena banjir lebih besar lagi penderitaannya.
Rumah dan harta tenggelam,, listrik padam, air minum susah di dapat dan tinggal
dalam pengungsian. Mungkin disinilah teruji kesabaran kita.
Alhamdulillah
setelah dua hari dua malam tiada listrik, sekitar jam delapan malam waktu
setempat listrik telah berhasil dinyalakan. Ucapan syukur terlontar dari mulut
kami, juga di saat yang bersamaan terdengar teriakan gembira dari arah luar
rumah. Semoga kejadian ini cepat berlalu, walaupun cuaca sudah mulai bersahabat,
namun di daerah selatan Brisbane banjir masih menenggelamkan rumah-rumah
penduduk setinggi 9 meter. Semoga Allah senantiasa melindungi saudara seiman
kita yang tertimpa musibah banjir di daerah tersebut dan memberi hidayah atas
musibah ini pada siapa saja yang dikehendakiNya. Bila Allah sudah berkehendak,
maka tiada seorangpun yang dapat menghentikannya.
Brisbane, 31
Januari 2013
Rabu, November 21, 2012
Schedule for Aisha & Nazia
Sudah hampir sebulan ini aku membuat
beberapa jadwal untuk anak-anakku. Aku
rasa ini penting agar mereka belajar untuk disiplin sejak dari usia dini. Mulai
dari jadwal naik sepeda, jadwal menonton televisi dan jadwal membaca buku
sebelum tidur.
Jadwal naik sepeda aku buat agar si
kakak bisa bergantian naik sepeda dengan adiknya. Jadwal kami buat dan kami
tulis bersama-sama secara musyawarah. Karena pagi sekolah, maka jadwal hanya
berbatas pada sore dan malam hari. Kakak dan adik harus memilih hari dan waktu kapan
ia naik sepeda. Bila si kakak Senin naik sepedanya sore, maka adik harus Senin
malam dan seterusnya. Setelah selesai ditulis jadwal aku tempel di dinding agar
mudah di baca. Walaupun anak-anak belum bisa membaca tapi mereka mengerti apa
yang sudah aku tulis.
Pada
awal pelaksaan memang anak-anak agak kurang rela untuk berbagi, namun lama
kelamaan mereka mulai terbiasa dengan jadwal. Nazia, si bungsu selalu bertanya
sebelum naik sepeda, ia tidak akan naik sepeda dulu sebelum membaca jadwalnya.
“Mi, hayi ni siapa yang
soye mi?” atau “Mi, hayi ni siapa yang mayam mi?”
(“Mi,
hari ini siapa yang sore mi?” atau “Mi, hari ini siapa yang malam mi?”
Berbeda
dengan Aisha, si kakak, mungkin karena sepeda itu miliknya ia sering lebih
dahulu naik sepeda baru kemudian membaca jadwal. Bahkan terkadang ia sedikit
cemberut bila ternyata jadwal naik sepeda pada hari yang dimaksud adalah
adiknya. Tetapi jadwal tetap harus dilaksanakan, meskipun ada yang menangis
tapi aku tetap konsisten dengan jadwal. Karena aku berpikir, bila sekali saja
kita melanggar, anak-anak bisa beranggapan kalau kita bisa dirayu dan tidak konsisten.
Saat
pergi ke supermarket untuk jajan misalnya hanya satu atau dua macam saja
yang boleh dibeli. Misalnya susu dan
permen. Sampai di supermarket hanya dua macam itu saja yang boleh dibeli. Bila
mereka minta di luar itu tetap tidak aku beri. Selain melatih disiplin aku
ingin mereka belajar untuk jujur pada diri mereka sendiri dan pada orang lain.
Alhamdulillah sekarang mereka sudah mulai terbiasa dengan hal ini. Paling bila
mereka hendak membeli lebih dari yang mereka jadwalkan di rumah anak-anak hanya
bilang,
“Mi, besok-besok
belinya yang ini mi yaa…”(sambil menunjukkan apa yang ingin
dibelinya) atau,
“Mi, kalau udah gak
batuk lagi beli permen yang ini mi ya..”
Atau..” Mi, boleh gak kalau beli yang ini?”
Selain
itu anak-anak juga aku perkenalkan dengan makanan dan minuman HALAL. Bila ada
makanan atau minuman yang tidak ada lambang halalnya maka kita tidak boleh
membelinya. Terkadang saking semangatnya mereka berteriak gembira ketika ingin
membeli makanan yang ada halalnya.
“Mi, Mi, liat ni, ada
halalnya mi! berarti boleh beli mi kan?”
Pernah
suatu hari anak-anak ingin sekali membeli permen “x”. Setahuku permen tersebut
tidak semua ada cap Halalnya. Oleh sebab itu anak-anak sudah kuperingatkan
sejak awal jika hendak membeli permen tersebut kita harus selalu lihat ada
tidak cap Halalnya. Saat memilih-milih, rupanya adik duluan yang dapat permen “x”
bercap halal. Dengan girangnya si adik langsung mengambil permen tersebut.
Sedangkan si kakak belum dapat, tak pantang menyerah ia terus mencari permen “x” sambil di bantu adik. Setelah
berapa lama permen yang di cari yang bercap halal tidak ketemu. Si kakak sudah
terlihat sangat sedih. Maka akupun menanyakan kepada mereka berdua.
“gimana nak, permennya
gak ada. Kita gak boleh beli yang gak ada halalnya. Bagaimana klo Adek bagi dua
permennya sama Cutkak ? Apa boleh Dek? “
Lama
si adek menjawab. Akhirnya adek setuju dengan tawaranku, Alhamdulillah,
senang rasanya melihat mereka mulai
belajar untuk berbagi. Walau terkadang masih sering berantam dan berebutan,
namun ingatlah bukankah berantam pada
anak-anak itu baik?(teringat kembali pesan Abah Ihsan dibuku beliau
Sudahkah Aku menjadi Orangtua Shaleh?).
Jadwal
kedua yang mulai aku buat adalah jadwal menonton televisi. Alhamdulillah
anak-anak sejak dari kecil tidak aku biasakan untuk menonton televisi. Namun
belakangan semenjak beberapa bulan kami tinggal di rumah nenek (ibuku),
sepertinya jadwal sudah mulai harus diterapkan. Selain lingkungan keluarga yang
ramai dengan usia sebaya mereka yang berbeda tingkat pembatasan jam menonoton
televisi oleh orangtua mereka masing-masing, juga ada orang-orang dewasa yang
menonton televisi disaat anak-anak ada bersama mereka. Kalimat-kalimat juga
lagu-lagu yang memprihatinkan menjadi santapan bagi anak kita bila kita selaku
orangtua tidak memilah dan memilih apa yang baik dikonsumsi untuk anak. Sering
pada saat ini kalimat “loe, gue, end”,
“jadi gue mesti bilang wow gitu?”, “masalah buat loe?” tak jarang keluar
dari mulut anak kita. Apa yang harus kita lakukan bila demikian keadaanya.
Maka
dari itu anak-anak kembali saya ajak untuk membuat jadwal menonton. Jadwal
hanya pada pagi dan sore, berbatas pada film kartun yang aku tentukan saja.
Alhamdulillah sampai hari ini mereka masih mengikuti jadwal.
Jadwal
yang terakhir adalah jadwal membaca buku. Anak-anak paling senang jika sebelum
tidur dibacakan buku cerita. Alhamdulillah mereka sudah mempunyai beberapa
koleksi buku cerita. Sebelum kami membuat jadwal siapa yang duluan bukunya
dibaca sebelum tidur, anak-anak selalu berebutan minta bukunya dibacakan
duluan. Tapi Alhamdulillah sekarang mereka jadi tertib dan tidak berebut lagi
setelah dibuat jadwal.
Cahaya Kehidupanku
Kembali teringat puisi ini, puisi yang aku buat sekitar 6 tahun yang lalu.. saat si buah hati belum hadir dalam kehidupan kami.
Cahaya
kehidupanku..
Cahaya itu
masih malu malu menghampiri kehidupanku…
Cahaya itu
masih menatapku dari kejauhan..
Kapan kiranya
ia datang dalam kehidupanku?
Kapan
kiranya ia memberi suasana berbeda dalam setiap perjalanan hidupku?
Kapan
kiranya ia membuat diri ini menjadi lebih berarti?
Kapan
kiranya ia mampu mengubah sosok ini menjadi lebih berbeda?
Aku rindu
sekali akan kehadirannya..
Aku ingin ia
segera ada dalam dekapanku..
Aku ingin
menjadi sosok yang selalu menyayanginya..
Mencintainya
segenap jiwa ragaku..
Aku ingin..
Ini semua
terjadi..
Duhai buah
hati ku..
Kapan engkau
datang dalam kehidupan ku, nak?
Aku ingin
mendengar..
Engkau
memanggilku..
Ummi…
Alhamdulillah sekarang telah hadir Aisha Fathia Izzati dan Nazia Hafizhatul Husna ditengah-tengah kami. terima kasih ya Allah. Semoga kami bisa menjadi orangtua yang shaleh dan diberi kekuatan untuk membesarkan dan mendidik anak-anak kami menjadi anak-anak yang shaleh/ah. Amin ya Rabbal'alamiin...
21 November 2012
Langganan:
Postingan (Atom)





