Tampilkan postingan dengan label Kid's corner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kid's corner. Tampilkan semua postingan
Jumat, April 08, 2016
Kenapa Harus "Allahumma.."
Sesaat sebelum makan
Umi : Dek..jangan lupa baca do'anya ya Nak..
Allahumma..(terhenti karena Adek langsung memotong)
Adek : Umiii.. kenapa harus selalu pertamanya bilang 'Allahummaa"? kenapa gak yang lain?
Umi : (Sambil tersenyum) Owwh.. karena kita mintanya sama Allah, Dek.. coba mintanya sama Umi.. pasti Adek bilangnya.. "Yaa Umii"..
Adek : Hehehe.. Iyaa ya Mi..
**ya Allah Nak.. pertanyaanmu ringan.. tapi sungguh bermakna Sayang..
Mudahkan hamba dalam mendidik anak-anak hamba ya Rabb..
Rabu, Mei 15, 2013
Rabu, November 21, 2012
Schedule for Aisha & Nazia
Sudah hampir sebulan ini aku membuat
beberapa jadwal untuk anak-anakku. Aku
rasa ini penting agar mereka belajar untuk disiplin sejak dari usia dini. Mulai
dari jadwal naik sepeda, jadwal menonton televisi dan jadwal membaca buku
sebelum tidur.
Jadwal naik sepeda aku buat agar si
kakak bisa bergantian naik sepeda dengan adiknya. Jadwal kami buat dan kami
tulis bersama-sama secara musyawarah. Karena pagi sekolah, maka jadwal hanya
berbatas pada sore dan malam hari. Kakak dan adik harus memilih hari dan waktu kapan
ia naik sepeda. Bila si kakak Senin naik sepedanya sore, maka adik harus Senin
malam dan seterusnya. Setelah selesai ditulis jadwal aku tempel di dinding agar
mudah di baca. Walaupun anak-anak belum bisa membaca tapi mereka mengerti apa
yang sudah aku tulis.
Pada
awal pelaksaan memang anak-anak agak kurang rela untuk berbagi, namun lama
kelamaan mereka mulai terbiasa dengan jadwal. Nazia, si bungsu selalu bertanya
sebelum naik sepeda, ia tidak akan naik sepeda dulu sebelum membaca jadwalnya.
“Mi, hayi ni siapa yang
soye mi?” atau “Mi, hayi ni siapa yang mayam mi?”
(“Mi,
hari ini siapa yang sore mi?” atau “Mi, hari ini siapa yang malam mi?”
Berbeda
dengan Aisha, si kakak, mungkin karena sepeda itu miliknya ia sering lebih
dahulu naik sepeda baru kemudian membaca jadwal. Bahkan terkadang ia sedikit
cemberut bila ternyata jadwal naik sepeda pada hari yang dimaksud adalah
adiknya. Tetapi jadwal tetap harus dilaksanakan, meskipun ada yang menangis
tapi aku tetap konsisten dengan jadwal. Karena aku berpikir, bila sekali saja
kita melanggar, anak-anak bisa beranggapan kalau kita bisa dirayu dan tidak konsisten.
Saat
pergi ke supermarket untuk jajan misalnya hanya satu atau dua macam saja
yang boleh dibeli. Misalnya susu dan
permen. Sampai di supermarket hanya dua macam itu saja yang boleh dibeli. Bila
mereka minta di luar itu tetap tidak aku beri. Selain melatih disiplin aku
ingin mereka belajar untuk jujur pada diri mereka sendiri dan pada orang lain.
Alhamdulillah sekarang mereka sudah mulai terbiasa dengan hal ini. Paling bila
mereka hendak membeli lebih dari yang mereka jadwalkan di rumah anak-anak hanya
bilang,
“Mi, besok-besok
belinya yang ini mi yaa…”(sambil menunjukkan apa yang ingin
dibelinya) atau,
“Mi, kalau udah gak
batuk lagi beli permen yang ini mi ya..”
Atau..” Mi, boleh gak kalau beli yang ini?”
Selain
itu anak-anak juga aku perkenalkan dengan makanan dan minuman HALAL. Bila ada
makanan atau minuman yang tidak ada lambang halalnya maka kita tidak boleh
membelinya. Terkadang saking semangatnya mereka berteriak gembira ketika ingin
membeli makanan yang ada halalnya.
“Mi, Mi, liat ni, ada
halalnya mi! berarti boleh beli mi kan?”
Pernah
suatu hari anak-anak ingin sekali membeli permen “x”. Setahuku permen tersebut
tidak semua ada cap Halalnya. Oleh sebab itu anak-anak sudah kuperingatkan
sejak awal jika hendak membeli permen tersebut kita harus selalu lihat ada
tidak cap Halalnya. Saat memilih-milih, rupanya adik duluan yang dapat permen “x”
bercap halal. Dengan girangnya si adik langsung mengambil permen tersebut.
Sedangkan si kakak belum dapat, tak pantang menyerah ia terus mencari permen “x” sambil di bantu adik. Setelah
berapa lama permen yang di cari yang bercap halal tidak ketemu. Si kakak sudah
terlihat sangat sedih. Maka akupun menanyakan kepada mereka berdua.
“gimana nak, permennya
gak ada. Kita gak boleh beli yang gak ada halalnya. Bagaimana klo Adek bagi dua
permennya sama Cutkak ? Apa boleh Dek? “
Lama
si adek menjawab. Akhirnya adek setuju dengan tawaranku, Alhamdulillah,
senang rasanya melihat mereka mulai
belajar untuk berbagi. Walau terkadang masih sering berantam dan berebutan,
namun ingatlah bukankah berantam pada
anak-anak itu baik?(teringat kembali pesan Abah Ihsan dibuku beliau
Sudahkah Aku menjadi Orangtua Shaleh?).
Jadwal
kedua yang mulai aku buat adalah jadwal menonton televisi. Alhamdulillah
anak-anak sejak dari kecil tidak aku biasakan untuk menonton televisi. Namun
belakangan semenjak beberapa bulan kami tinggal di rumah nenek (ibuku),
sepertinya jadwal sudah mulai harus diterapkan. Selain lingkungan keluarga yang
ramai dengan usia sebaya mereka yang berbeda tingkat pembatasan jam menonoton
televisi oleh orangtua mereka masing-masing, juga ada orang-orang dewasa yang
menonton televisi disaat anak-anak ada bersama mereka. Kalimat-kalimat juga
lagu-lagu yang memprihatinkan menjadi santapan bagi anak kita bila kita selaku
orangtua tidak memilah dan memilih apa yang baik dikonsumsi untuk anak. Sering
pada saat ini kalimat “loe, gue, end”,
“jadi gue mesti bilang wow gitu?”, “masalah buat loe?” tak jarang keluar
dari mulut anak kita. Apa yang harus kita lakukan bila demikian keadaanya.
Maka
dari itu anak-anak kembali saya ajak untuk membuat jadwal menonton. Jadwal
hanya pada pagi dan sore, berbatas pada film kartun yang aku tentukan saja.
Alhamdulillah sampai hari ini mereka masih mengikuti jadwal.
Jadwal
yang terakhir adalah jadwal membaca buku. Anak-anak paling senang jika sebelum
tidur dibacakan buku cerita. Alhamdulillah mereka sudah mempunyai beberapa
koleksi buku cerita. Sebelum kami membuat jadwal siapa yang duluan bukunya
dibaca sebelum tidur, anak-anak selalu berebutan minta bukunya dibacakan
duluan. Tapi Alhamdulillah sekarang mereka jadi tertib dan tidak berebut lagi
setelah dibuat jadwal.
Senin, November 19, 2012
Teguran Bidadariku
Tidak bisa dipungkiri bahwa ingatan anak-anak
lebih kuat dibandingkan dengan ingatan orang dewasa. Bahkan tingkat penyerapan
informasi lebih cepat ditangkap oleh anak-anak dibandingkan orang dewasa. Hal
ini terbukti oleh Nazia si cute my second girl. Sore itu kami hendak
bersiap-siap pergi ke rumah nenek. Saat hendak mengeluarkan motor dari halaman
rumah, tiba-tiba Nazia bersin. Selang berapa detik dia berkomentar..
“ Mi, umi tok gak biyang Alhamdulillah..” (Umi
kok gak bilang Alhamdulillah maksudnya).
Astarghfirullah… mungkin karena sangking
sibuknya dengan si motor aku terlewatkan untuk mengucapkan Alhamdulillah saat
mendengar ia bersin.
“ Oiya ya.. umi lupa.. maaf ya..”,
“Alhamdulillah..”, jawabku. “trus kita bilang apa lagi dek?”, tanyaku kembali.
“Yarhamukillah..” jawab kami berbarengan
sambil tersenyum.
Malam
harinya sebelum tidur aku menjelaskan pada anak-anak bahwa setiap bersin kita
harus mengucapkan Alhamdulillah. Setelah itu orang yang mendengarkannya harus
menjawab Yarhamukillah untuk perempuan atau Yarhamukallah untuk laki-laki. Untuk
mudahnya aku memberi contoh pada mereka.
Bila yang bersin umi, nenek, bunda, bu guru,
kita mengucapkan Yarhamukillah.
Bila yang bersin abi, kakek, paman, kita
mengucapkan Yarhamukallah.
Alhamdulillah anak-anak langsung paham. Hingga
pada saat ini anak-anak sering protes bila mereka bersin tidak ada yang
menjawab Yarhamukillah. Kadang reaksi spontan langsung mereka ucapkan.
“ nek, biyang Yarhamukillah!!”, ucap si adek dengan
cadelnya bila setelah ia bersin dan mengucapkan Alhamdulillah tidak ada balasan
Yarhamukillah dari orang disekitarnya.
Atau si kakak Aisha sering berbisik padaku, “
Mi, kok nenek tante(panggilan untuk tanteku) gak bilang
Yarhamukillah untuk Cutkak?”.
Atau sambil marah-marah karena kesal tidak ada
balasan ketika bersin, Aisha berteriak, “ bilang Yarhamukillah Tati ( panggilan
untuk bundanya)!.”
Alhamdulillah.. satu pelajaran telah berhasil
mereka ingat dan praktekkan. semoga kita dapat saling mengingati ya sayang..
8 November 2012
Kasian si Emo
Teringat kembali kisah sehari sebelum
hari raya Idul Adha 1433 H. Saat itu aku bersama dua orang anakku, Aisha 4
tahun dan Nazia 2,5 tahun pergi keliling Darussalam dengan mengendarai motor.
Kami melewati para penjual daging yang sudah dikerumuni banyak pembeli. Aku
sengaja mengendarai motorku dengan perlahan, dengan maksud agar anakku melihat
daging sapi yang sudah digantung dan
ditumpuk-tumpuk untuk di jual. Saat melihat potongan kaki, paha dan kepala keduanya
langsung menyerbuku dengan pertanyaan.
“Umi,
kenapa mo nya dipotong mi? dia jahat
ya?” Tanya si kakak Aisha.
“Iya
umi.. sayang dia..” tambah sang adik.
“ gak sayang.. mo nya gak jahat. Dia dipotong supaya dagingnya bisa kita makan..nanti
mo nya lagsung masuk surga”, jawabku.
“Kenapa
masuk surga?”, Tanya mereka kembali.
“iyaa..karena dia udah baik sama kita,
sudah kasih dagingnya untuk kita makan”, jawabku lagi.
“Kenapa
dagingnya kita makan?”, Tanya adik.
“supaya kita sehat dan cepat besar.
Daging mo kan bagus, bisa buat kita
sehat..sama kayak ikan, ayam, udang, kan semuanya kita makan biar kita sehat
dan cepat besar”, jawabku sambil berpikir keras jawaban apa yang mudah mereka
cerna.
“ tapi kan kepalanya, kakinya udah putus mi,
apa nanti bisa di lem lagi?”Tanya si kakak.
“ kita gak bisa lem lagi nak. Nanti
Allah yang sambung lagi mo nya pas
dia udah masuk ke dalam surga..”, jawabku kembali.
Pertanyaan-pertanyaan
terus mengalir dari mulut mereka hingga kami sampai di rumah. Allahu Akbar..
semoga kami selalu siap dan sabar menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang
mereka ajukan.. selalu bimbing kami untuk menjadi orangtua yang shaleh ya
Allah..
Mo
= Lembu/ sapi
2 November 2012
Langganan:
Postingan (Atom)

