Kamis, Mei 21, 2015

Picture by Aisha

Tak bisa lepas dari pensil dan kertas..
Selalu bisa menuangkan kembali apa yg dilihat ke dalam bentuk gambar.
Alhamdulillaah, Good job Cutkak! :*



Pic 1 by Cutkak

Pic 2 by Cutkak

Sabtu, November 23, 2013

A Blessed Life: #MenulisMuharram: Only with One Touch

Gini hari gak punya hape? Apa kata duniaaa..!!

Mulai dari anak SD sampe nenek kakek pun sekarang sudah punya hape.. Bahkan untuk urusan ngebuka dan mencet tut-tut di hape anak balitapun sekarang sudah mahir. Beda banget dengan jaman kita dulu. Paling cepat waktu SMA baru kenal hape. Ck.. ck..

Bagi sebagian besar kita sehari gak pegang hape rasanya bakalan kehilangan seusatu yang berharga. Coba deh ingat-ingat lagi, berapa kali dalam sehari kita membuka hape? Padahal gak ada yang sms.. Gak ada yang nelpon.. Cuma “latah” aja.. Rasanya gak enak hati kalo gak nge-cek si hape. Apalagi bila memiliki hape canggih. Model touch screen, yang ada cameranya, internetnya.. Waa pasti deh gak tenang bila dalam beberapa jam gak buka tuh hape. Ada aja yang diliahat, lihat foto, gonta ganti wallpaper hape dan lain sebagainya.

Hmmm.. mungkin adalah gaya hidup jaman sekarang. Gak ada hape gak gaya. Gak ada hape dianggap kampungan. Gak ada hape bakalan ketinggalan informasi. Bermacam alasan setiap orang memiliki hape. Namun tahukah kita bahwa setiap apapun yang kita miliki akan diminta pertanggungjawaban kelak oleh Allah? Termasuk hape.. Apakah kita bisa menjadikan hape sebagai pembawa manfaat atau pembawa mudharat..

Yuk kita kilas balik kembali apa tujuan kita memiliki hape. Perjelas tujuan agar hape tersebut membawa manfaat bagi kita. Jangan install berbagai applikasi yang membuat kita lalai dan malas. Kritislah dalam mengunduh applikasi. Usahakan hape kita tidak dipenuhi dengan berbagai games yang membuat kita banyak membuang waktu.

Sebagai muslim dan muslimah hendaklah hape kita memiliki beberapa applikasi islami yang banyak memberi manfaat. Saat ini banyak sekali applikasi islami yang dapat membantu kita belajar islam lebih baik. Baik itu applikasi tentang Alquran yang di lengkapi dengan ilmu tajwid ataupun applikasi tentang berbagai macam hadist shahih yang diriwayatkan oleh berbagai perawi. Tidak hanya itu, appilkasi islami untuk anak-anak juga banyak sekali, mulai dari games, berbagai macam do’a sehari-hari, ataupun bacaan dan tata cara shalat.

Tidak ada salahnya bukan kita mengunduh applikasi islami ini? misalkan ketika menunggu bus kita bisa memanfaatkan waktu untuk mengaji ataupun membaca hadist-hadist shahih. Begitu pula bila kita memiliki anak. Anak tidak hanya kita suguhkan dengan berbagai macam games yang tidak membuat pengetahuan islamnya bertambah, namun pilihlah applikasi yang bermanfaat baginya. Misalkan melalui puzzle ia tahu bagaimana bentuk huruf-huruf hijaiyah atau sambil melihat gambar anak tahu bagaimana gerakan shalat beserta bacaannya.


So.. tunggu apalagi sobat.. yuk manfaatkan applikasi islami ini selagi kita memiliki sarana untuk mengunduhnya. Jadikan waktu kita lebih bermanfaat dan barakah !!

Jumat, November 01, 2013

Bacaan Qur'an Erna | Bersama Dakwah

Bacaan Qur'an Erna | Bersama Dakwah

Untukmu, para Bunda.

Bunda, pernahkah kau merasakan hal ini?

Ketika kehadiran sang buah hati belum juga ada setelah pasca pernikahan apakah yang engkau rasakan, Bunda? Rasa sedih dan keinginan yang besar  akan kehadiran sang buah hati bukan? Segala usaha senantiasa engkau lakukan dan segala do’a engkau panjatkan agar Sang Kuasa segera mengabulkan keinginanmu.Bukankah begitu Bunda?

Dan.. penantian berakhir bahagia ketika  dua garis merah tertera pada test pack kehamilan. Pada saat itu apakah yang engkau rasakan Bunda? Rasa syukur, haru dan bahagia pasti menyertaimu. Hari demi hari engkau lalui. Rasa mual, pusing, tidak enak tidur, tidak enak makan, sakit punggung, sakit pinggang, pasti engkau rasakan dari awal kehamilan hingga kandunganmu membesar. Tapi engkau tidak pernah mengeluh, semua engkau jalani dengan ikhlas karena engkau sangat menyayangi dan mencintai calon buah hatimu. Bahkan saat persalinan tiba engkaupun rela mempertaruhkan nyawa demi kehadiran sang buah hati tercinta.
Ketika tangisan pertama terdengar, kalimat thayyibah segera meluncur dari bibirmu. Perjuangan terbesar telah engkau lalui, perjuangan antara hidup dan mati. Rasa sakit luar biasa yang tak bisa terungkapkan dengan kata-kata. Namun benar, rasa sakit yang segera hilang ketika melihat sang buah hati hadir dihadapanmu. Allahu Akbar. Alhamdulillah. Pasti kalimah itu yang engkau ucapkan. Segera setelah itu engkau bertambah peran menjadi seorang ibu bagi anakmu.

Hari berganti hari engkau mulai belajar bagaimana cara mengasuh anak. Memandikannya, mengganti popoknya, memakaikan bajunya, memasang bedungnya, menggendongnya, bahkan engkau rela tidur malammu terganggu saat sang buah hati terbangun karena haus dan lapar. Tidak hanya sekali, bahkan dua hingga empat kali engkau terbangun karena tangisnya. Tapi apakah engkau marah karena tidurmu terganggu? Tentu tidak Bunda. Esok paginya waktumu kembali untuk sang buah hati. Rutinitas sebagai ibu dan istri kembali engkau jalani. Dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali.

Hari, bulan dan tahunpun berganti. Tak terasa sang buah hati telah besar. Ia mulai belajar berbalik kiri dan kanan, telungkup, maju dan mundur, merangkak, duduk, berdiri, berjalan, berlari dan berbicara.  Namun dalam melewati hari-harinya pasti ada saja hal yang kadang membuatmu tersenyum, tertawa, bahagia, kesal dan juga marah. Itu wajar Bunda.

Saat sang buah hati tercinta menangis, marah, berteriak, mengamuk, apa yang engkau rasakan Bunda? Apakah engkau geram dan tak sabar ingin juga membentak, memarahi bahkan mencubit atau memukulnya agar ia diam dari amarah dan tangisannya? Atau apakah engkau akan membiarkan dan berusaha sekuat mungkin untuk besabar sampai ia puas dengan tangisannya?

Saat sang buah hati meminta sesuatu yang menurut kita tidak cocok untuknya apakah kita segera  mejawab dengan kata-kata yang bijak dan memberi alasan akan penolakan kita terhadap keinginannya? Ataukah kita dengan segera menjawab dengan kasar agar ia berhenti meminta dan merengek? Atau langsung mengabulkan keinginannya karena tidak  ingin mendengar tangisannya?

Saat ia mulai pada fase bertanya apa yang dilihat dan dialaminya apakah kita sudah sabar untuk mendengar dan menjawab akan semua pertanyaannya? Ataukah kita akan menjawab dengan disertai amarah karena kita bosan dan capek menjawab pertanyaan yang menurut kita adalah pertanyaan sepele?
Saat ia beraksi dengan mengamuk dan menangis dikeramaian apakah kita siap untuk menghadapinya? Membujuk dan mendiamkannya dengan sabar?

Saat sang buah hati enggan untuk makan, mandi, gosok gigi, merapikan kembali mainan dan buku-bukunya yang berantakan, membuang sampah tidak pada tempatnya apakah kita juga sabar menghadapinya? Atau kita langsung memarahinya agar ia mau menuruti apa yang kita perintahkan?

Saat sang buah hati berantam, mencubit dan memukul adik atau temannya, apa yang kita lakukan? Segera kembali mencubit, memukul dan memarahinya? Bahkan disertai bentakan dengan suara yang besar disertai pelototan agar si anak takut dan jera? Apakah itu cara yang terbaik menurutmu Bunda?

Saat kau dapati anakmu bermain kotor, bermain tanah, pasir, batu bahkan becek dan lumpur apakah engkau akan segera memarahi dan menariknya agar berhenti? Atau sebaliknya, engkau akan bermain bersama mereka?

Bunda.. sungguh banyak hal yang terjadi dalam  kehidupan anak kita. Semua itu adalah proses pembelajarannya. Bukankah waktu kita kecil dulu seperti itu juga. Kita dulu juga pernah menangis, marah, kesal bahkan berteriak dan mengamuk bila ada hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Apakah perlakukan yang diberikan orangtua kita sama dengan perlakukan kita terhadap anak kita? Lebih baikkah atau lebih burukkah?

Namun jangan lupa Bunda, ia juga punya banyak kelebihan. Jangan sepelekan kelebihan dan kepintarannya. Jangan enggan untuk memuji dan mengucapakan terima kasih atas segala perlakuan positifnya. Berikan imbalan yang akan membangun kepercayaan dirinya. Jangan malu untuk meminta maaf bila memang kita melakukan kesalahan terhadapnya.

Ketika ia sudah bisa makan sendiri, minum sendiri, memakai baju dan celana sendiri, memakai kaos kaki dan sepatu sendiri, bahkan mandi sendiri. Jangan sungkan untuk memujinya. Pujian kita akan membuatnya semangat dan membentuk ion-ion positif dalam tubuhnya.

Ketika ia rukun saat bermain dengan adik atau teman, beri kembali pujian padanya. Jangan hanya kita menegur dan meresponnya ketika ia berantam atau berebut mainan dengan adik atau temannya.

Ketika ia pintar melantunkan doa dan surat-surat pendek beri ia semangat untuk lebih banyak menghafal dan jelaskan imbalan apa yang akan ia dapat kelak.

Belum telambat bagi kita untuk selau berbenah hari demi hari untuk menjadi orangtua yang terbaik baik anak-anak kita. Siapa yang tidak mau disayang, dicintai, dihormati, dipatuhi dan didengarkan oleh anak-anaknya?  Semua kita pasti mau. Semua kita pasti ingin. Namun semua butuh proses, proses bertahap dan panjang. Berikan contoh dan teladan yang baik untuk anak-anak kita. Dalam hal apapun, sekecil apapun, dimanapun. Ia mungkin hanya melihat dan tidak bertanya, tapi yakinlah ia merekam setiap tindak tanduk kita. Kita orangtuanya, contoh pertama dalam kehidupannya. Sertakan do’a kita dalam mendidiknya. Semoga Allah membimbing kita menjadi orangtua yang shaleh dan shalehah dan menjadikan anak-anak kita anak yang shaleh dan shalehah. Amin ya Rabbal’alamiin..






Rabu, Oktober 09, 2013

Agar Anak Mau Tidur Sendiri By Abah Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Agar Anak Mau Tidur Sendiri

Written By: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Auladi Parenting School Director
International Parenting Motivator
Ayah 4 orang anak
inspirasipspa@yahoo.com 

Membuat anak-anak tidur sendiri bukanlah pekerjaan yang mudah, khususnya yang masih berusia balita. Membiasakan anak usia balita untuk tidur terpisah sejak dini juga menurut beberapa pakar psikologi perkembangan anak diyakini dapat menanamkan sifat kemandirian pada anak-anak.


Sebenarnya, memisahkan tempat tidur anak dengan orangtua adalah kewajiban. Di dalam Al-Qur an di kenal prinsip ISTI ZAN yakni meminta izin jika anak ke kamar orangtua. Jika demikian, tak mungkin anak meminta izin jika tidurnya masih bersatu dengan orangtua. 



Orang-orang Barat cendrung memisahkan tidur anak dengan orangtua sejak bayi sedangkan orang-orang asia saat kira-kira mereka melewati masa balita? Kami merekomendasikan, agar bayi tetap dan baik jika tidur di dekan orangtua. Dampak positifnya, kehangatan, hubungan jiwa antara anak dengan orangtua bisa lebih dekat. Baru, setelah melewati kira-kira usia 3 tahun. Anak secara bertahap dipisahkan tempat tidurnya. 4 tahun: tidur beda kasur tapi masih satu kamar dengan orangtua. 5 tahun: mulai tidur beda kamar meski masih diantar orangtua. 6 tahun: seharusnya sudah dapat tidur sendiri, mandiri meski pun tanpa di dampingi. 



Apapun caranya, ini butuh konsistensi. Jika anak tengah malam menangis dan kembali lagi ke kasur orangtua. Hendaknya orangtua memindahkan kembali ke kasur anak, meski mungkin orangtua masih mendampingi sampai dia tertidur. Jika orangtua konsisten, maka insya Allah dalam waktu tertentu anak akan terbiasa tidur sendiri tanpa didampingi orangtua. 



Berikut ini beberapa tips lain yang kami kutip dari majalah Inspiredkids edisi Juni 2009, agar anak mau tidur sendiri, yaitu:



1. Ciptakan Suasana Gembira



Mulailah secara bertahap dengan mengatakan bahwa dalam beberapa hari ia akan diizinkan tidur sendiri. Buatlah seperti suatu kejadian yang menyenangkan. Bila mungkin, siapkan kamar khusus untuk si kecil atau letakkan hadiah kecil yang disukainya di bawah bantal setiap kali ia tidur di kamarnya sepanjang malam tanpa mengganggu. Jika ia sudah terbiasa, katakana bahwa sang peri pembawa hadiah harus menjaga anak lain.



2. Dengan Musik atau Cerita
Putar musik atau cerita di kamar si kecil. Biarkan anak memilih lagu atau cerita yang ingin diputarnya. Kemudian minta ia berbaring di tempat tidurnya sambil mendengarkan cerita atau musik sampai tertidur dengan sendirinya. Sediakan juga kaset musik lembut sebagai cadangan kalau-kalau ia terbangun di malam hari. Musik itu untuk menemani si kecil tidur kembali.



3. Percantik Kamar si Kecil
Carilah hiasan untuk mempercantik kamar si kecil. Libatkan dia dalam mencari hiasan kamarnya. Ia bias memilih boneka, gambar-gambar untuk digantungkan. Buatlah ruangan sehingga si kecil senang berada di kamrnya. Tak perlu mahal, tapi yang penting gunakan imajinasi untuk menghidupkan suasananya.



4. Biarkan Tumbuh Secara Alami
Biarkan kemandirian anak tumbuh secara alami. Jangan lakukan dengan paksa. Bila ia belum siap, berikan waktu baginya untuk terbiasa dengan gagasan tidur sendiri ini. Setiap anak adalah individu yang mempunyai identitas sendiri. Ia tidak bisa disamakan dengan anak tetangga, teman, bahkan kakak atau adiknya sendiri. Lepaskan ia tidur sendiri saat ia siap benar. Bila si kecil menangis di tengah malam, pergilah ke kamarnya dan temani tidur di sana. Ajarkan ia belajar mengatasi rasa takutnya.



5. Tunggu Sampai Pagi
Saat balita meminta untuk tidur bersama, katakan padanya ia baru boleh masuk kamar tidur kita saat suasana di luar rumah sudah ‘terang tanah’. Di pagi hari, si kecil akan bersemangat mengumumkan bahwa ‘gelap sudah pergi’ dan ia boleh numpang tidur sebentar di kamar orangtua.



6. Harus Ada Alternatif Lain
Katakan pada anak anda, jika ia ingin tidur di kamar kita, ia harus mau tidur di kantung tidur atau kasur lipat yang telah disediakan, di lantai. Bukannya di tempat tidur orangtua. Mula-mula si kecil akan menerima tantangan itu. Namun lama-lama akhirnya ia lebih suka tidur di kamarnya sendiri. Kasur lipatnya tetap kita sediakan di kamar, supaya tidak ada kesan bahwa kita memang berniat mengusir si kecil.



7. Pengecualian
Dengan meningkatnya kasus pelanggaran pada anak, berhati-hatilah saat menempatkan tamu sekamar dengan si kecil. Mintalah si kecil bicara jujur tentang kekhawatiran atas tamu yang sekamar dengannya.



8. Bicara Jujur
Bagi anak yang sudah mendekati usia 5 tahun, katakan terus terang bahwa ini saatnya ia tidur dan mengatur kamarnya sendiri. Anak yang diberi tanggung jawab seperti ini biasanya mau menerima dan tak akan ngambek.



9. Temani Mereka
Jika waktu tidur tiba, temani anak di kamarnya sambil membacakan cerita sampai ia tertidur. Kehadiran kita dan cerita yang kita bacakan membuatnya merasa aman dan nyaman.



10. Pindahkan Kasurnya
Saat si kecil masih ingin tidur di kamar kita, pindahkan kasurnya ke dalam kamar tidur tepat di sebelah tempat tidur kita. Kemudian setiap hari jauhkan jarak kasurnya sedikit demi sedikit, sampai mendekati pintu.

Senin, Oktober 07, 2013

Kita, Bukan Orangtua Malaikat by Abah Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Kita, Bukan Orangtua Malaikat

Written By: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Auladi Parenting School Director
International Parenting Motivator
Ayah 4 orang anak
inspirasipspa@yahoo.com | www.auladi.org


Ayah, Ibu…..
Ketahuilah, menjadi orangtua terbaik untuk anak-anak kita
bukanlah berarti kita diharapkan menjadi orangtua malaikat
yang tak boleh kecewa, sedih, capek, pusing menghadapi anak.
Perasaan-perasaan negatif pada anak itu wajar,
bagaimana menyalurkannya hingga tak sampai menyakiti anak
itu yang menjadi fokus perhatian.

Artinya, ayah ibu,
sebenarnya kita masih tetap boleh sedih, kecewa pada anak,
tetapi kita sama sekali tak berhak untuk melukai
dan menyakiti anak-anak kita.

Ketahuilah, melotot, mengancam, membentak
dapat membuat hati anak terluka.
Apalagi, mencubit dan memukul tubuhnya.
Tubuhnya bisa kesakitan,
tapi yang lebih sakit sebenarnya apa yang ada dalam tubuhnya.

Ayah, Ibu…..
Karena kita bukan orangtua malaikat,
maka yakinlah anak kita pun bukan anak malaikat
yang langsung terampil berbuat kebaikan.
Mereka tengah belajar ayah,
mereka masih berproses Ibu.

Seperti belajar bersepeda,
kadang mereka terjatuh,
kadang mereka mengerang kesakitan ketika terjatuh.

Demikian juga dengan perilaku anak-anak kita,
mereka bereksplorasi,
mereka berproses,
mereka mengayuh kehidupan
untuk meraih kebaikan
dan menjadi manusia yang berperilaku baik.

Ketika mereka terjatuh saat belajar berperilaku,
sebagian kita lalu memvonisnya sebagai anak nakal,
padahal sebenarnya mereka belum terampil berbuat kebaikan.

Jika Ayah Ibu membimbing kebelumterampilan perbuatan baik anak
dengan cara yang baik.
Insya Allah kebelumterampilan berbuat baik mereka
akan terus tergerus dari kehidupan mereka.

Tetapi Ayah, Ibu,
jika kita menghadapi ketidakterampilan ini
dengan tekanan, ancaman, bentakan, cubitan, pelototan,
mereka akan semakin terpuruk ke arah keburukan.

Ayah Ibu….
Yakinlah, ketika seorang anak emosinya kepanasan:
nangis, marah yang terekspresikan dalam bentuk
yang mungkin dapat membuat orangtua jengkel,
siramlah ia dengan kesejukan.
Menyiram kayu yang terbakar dengan minyak panas
hanya membuat ia makin terbakar.

Ayah, Ibu…..
Yakinilah, sifat-sifat negatif anak
hanyalah bagian eksplorasi untuk mencari cahaya kehidupan.
jika kita memahaminya sebagai sebuah bagian proses kehidupan,
insya Allah anak-anak kita akan akan menebar cahaya untuk kehidupan.

Karena itu ayah, ibu…,
jika kadang amarah dengan kejahilian memperlakukan anak
mampir lagi dalam hidup kita,
kamus yang benar adalah inilah uji ketulusan
bukan kegagalan,
terus belajar tentang kehidupan,
bukan tak berhasil dalam kehidupan.

Belajar, memburu ilmu,
adalah ikhtiar yang kita tuju,
karena sebagian kita ketika menikah
tidak disiapkan jadi orangtua.

Jadi, ayah ibu,
mari kita terus belajar,
meskipun telah jadi orangtua: belajar….jadi orangtua.
Andaikan keluarga kita kuat,
insya Allah anak-anak kita memiliki ketahanan mental
terhadap lingkungan yang gawat.

**

Dikutip dari buku super best seller "Sudahkah Aku Jadi Orangtua Shalih", dapatkan renungan lainnya di buku ini.